TANJUNGPINANG (SK) – Budayawan Melayu, Rida K Liamsi, meluncurkan karya barunya, yaitu sebuah buku yang walau belum dapat dikatakan (berpotensi) sebagaimana lazimnya, sebuah buku Sejarah yang ditulis dengan kaidah dan cara-cara berkadar ilmiah tinggi dan kaidah historiografi, serta riset dan penelitian, namun bisa jadi renungan, analisa, perbandingan, rekonstruksi dan penafsiran ulang terhadap semua materi yang sudah ada, di Hotel CK Km 8 atas Tanjungpinang, Jumat, (28/10/2016), malam.
Buku yang berjudul “Prasasti Bikit Siguntang dan Badai Politik di Kemaharajaan Melayu” ini juga dilakukan Bedah Buku oleh beberapa pakar penulis buku sejarah budayawaan, seperti Drs Aswandi Syahri (Tumenggung Riau Johor di Pulau Bulang), Drh Chaidir MM (Penulis kolom “Sigai” di Harian Riau Pos, DR Ahmad Dahlan (Penulis Buku, Sejarah Melayu), dan DR Mukhlis PaEni (Pengarang Buku, Melayu-Bugis-Melayu).
Rida dalam penjelasannya mengungkapkan, bahwa ia terpanggil untuk mengkaji sejarah Prasasti Bukit Siguntang ini karena ucapan/tulisan teman-temannya yang mengatakan bahwa Laksmana Megar Sri Rama tak kan mungkin membunuh Sultan Mahmud II, kalau tidak ada sebab-sebab yang kuat untuk melakukannya (menderhaka).
“Saya jadi terpanggil untuk mengkaji karena tak mungkin Laksmane Bentan itu (Megar Sri Rama) sanggop menderhaka, kalau tidak ada sebab-sebab yang jelas,” papar Rida, di hadapan para undangan, yang dihadiri Walikota Tanjungpinang Lis Darmansyah, Pemangku Adat Bentan H Huzrin Hood SH, 4 orang Pembicara bedah buku yang ditulis di atas, Wakil Ketua II DPR Kepri Husnizar Hood, Sekda Kepri Arif Fadillah, beberapa anggoda DPRD, SKPD, dan elemen elemen budaya lainnya.
Dalam acara itu Rida juga membegi-bagikan buku karyanya itu kepada kepada pembesar-pembesar di Kepri dan undangan yang hadir, sementara Gubernur Kepri Nurdin Basirun yang hadir belakangan, juga diberikan oleh Rida diatas panggung. (SK-MU/C)








