GESER UNTUK BACA BERITA
OPINI

Pulasan, Buah Langka yang Kerap Disangka Rambutan

×

Pulasan, Buah Langka yang Kerap Disangka Rambutan

Sebarkan artikel ini
Pulasan, Buah Langka yang Kerap Disangka Rambutan
Pulasan, Buah Langka yang Kerap Disangka Rambutan. (Foto : KJK)

SIJORIKEPRI.COM – Pulasan merupakan salah satu buah tropis asli Asia Tenggara yang kini semakin jarang dijumpai. Meski sekilas tampak menyerupai rambutan, buah ini memiliki karakteristik fisik, cita rasa, hingga cara mengupas yang berbeda sehingga layak dikenali masyarakat sebagai salah satu kekayaan hayati Nusantara.

Masih banyak orang yang mengira Pulasan hanyalah jenis rambutan. Padahal, keduanya merupakan spesies yang berbeda dengan ciri khas masing-masing. Kesamaan bentuk luar kerap membuat buah ini sulit dibedakan oleh masyarakat yang belum pernah mengenalnya.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Gagasan tersebut disampaikan Ady Indra Pawennari dalam sebuah artikel opini yang mengulas pengalaman mengenal kembali buah Pulasan sekaligus mengajak masyarakat memahami keunikan salah satu buah lokal yang kini tergolong langka.

Menurutnya, perbedaan paling mudah dikenali terdapat pada bagian kulit buah. Rambutan umumnya memiliki kulit berwarna merah cerah atau kuning dengan rambut-rambut halus yang lentur. Sementara itu, Pulasan memiliki kulit yang lebih tebal dengan warna merah tua hingga keunguan dan tonjolan menyerupai duri tumpul, tanpa rambut seperti pada rambutan.

Perbedaan juga terlihat pada daging buahnya. Pulasan disebut memiliki tekstur yang lebih padat dan kenyal dengan rasa manis yang lebih pekat. Daging buahnya juga lebih mudah terlepas dari biji dibandingkan beberapa varietas rambutan yang cenderung melekat pada bijinya.

Keunikan lainnya terdapat pada cara membuka buah. Jika rambutan umumnya dibuka dengan bantuan kuku atau digigit, kulit Pulasan cukup dipulas atau dipuntir menggunakan kedua tangan hingga terbelah. Cara membuka inilah yang diyakini menjadi asal-usul nama buah tersebut.

Dalam tulisannya, Ady juga menjelaskan bahwa Pulasan tumbuh baik di wilayah beriklim tropis basah dan masih dapat ditemukan di sejumlah daerah di Indonesia, seperti Sumatera, Kalimantan, serta sebagian wilayah Jawa Barat yang mengenalnya dengan sebutan Kapulasan. Meski demikian, budidaya Pulasan secara komersial masih relatif terbatas sehingga keberadaannya semakin jarang dijumpai.

Ia menilai, keberadaan pohon Pulasan yang masih mampu tumbuh dan berbuah merupakan bagian dari upaya menjaga plasma nutfah atau sumber daya genetik tanaman asli Indonesia. Selain memperkenalkan kembali buah yang mulai langka, pelestarian tanaman lokal juga dinilai penting agar kekayaan hayati Nusantara tetap dikenal dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Sebagai penutup tulisannya, Ady juga membagikan pengalaman salah seorang sahabatnya, Sigit Rachmat, yang langsung mengenali buah tersebut sebagai Pulasan. 

Menurutnya, Sigit mengaku terakhir kali menikmati buah itu saat masih kecil di Pekanbaru dan baru kembali menjumpainya setelah hampir tiga dekade menetap di Tanjungpinang. 

Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa keberadaan buah-buah lokal seperti Pulasan bukan hanya menyimpan kekayaan hayati, tetapi juga mampu menghidupkan kembali memori yang telah lama tersimpan.  ***

banner 200x200
Preferensi Sumber
banner 482x100