NATUNA (SK) — sebagian besar nelayan tradisional Ranai memilih untuk berhenti melaut, karena gelombang tinggi yang dapat membahayakan para nelayan.
Meski cuaca di daratan terpantau cukup baik, namun tidak demikian yang rerjadi di tengah laut. Para nelayan mengaku kondisi di tengah laut kini tengah dilanda gelombang tinggi dan arus di dalam laut sedang deras akibat pengaruh angin utara yang terjadi saat ini di Natuna.
Akibatnya, banyak nelayan memilih tidak melaut dan menyandarkan kapal-kapal mereka di dermaga atau di pesisir pantai sekitar seminggu terakhir ini.
Disisi lain, ada juga nelayan yang tetap nekat melaut. Namun mereka mengeluh adanya anomali cuaca yang terjadi belakangan ini dan berimbas terhadap hasil tangkapan ikan mereka.
Namun mereka lebih memilih untuk tetap melaut, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari meskipun hasilnya berkurang dari jumlah biasanya.
Kondisi nelayan ini, berimbas pada jumlah pasokan ikan segar di tempat penjualan ikan di Ranai. Tempat penjualan ikan saat ini sepi pengunjung, dikarenakan harga ikan segar menjadi semakin mahal dari pada harga biasanya.
BMKG Ranai Demetrius Kristian, mengatakan laut Natuna dan wilayah laut Cina selatan saat ini sedang kondisi ekstrim, sehingga para nelayan tradisional tidak dibenarkan untuk melaut.
“Himbauan ini agar menjadi pedoman bagi para nelayan tradisional, bahkan pelayaran untuk sementara tidak berlayar sampai batas waktu hingga kondisi cuaca dapat normal kembali,” tutupnya. (SK-Nard/C)








