TANJUNGPINANG – Berdasarkan data tahun 2013 hingga 2025, tercatat sebanyak 103 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) di Provinsi Kepulauan Riau yang telah disahkan secara nasional, dengan tambahan 14 objek pada tahun 2025. Capaian ini menunjukkan kekayaan budaya daerah yang terus mendapat pengakuan, sekaligus menuntut upaya pelestarian yang berkelanjutan.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) dalam menjaga keberlanjutan tersebut adalah dengan meluncurkan Aplikasi Pantunesia, sebuah inovasi digital untuk pelestarian pantun Melayu yang diperkenalkan bertepatan dengan Perayaan Hari Pantun Nasional Tingkat Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2025.
Peluncuran Pantunesia berlangsung di Gedung Dekranasda Provinsi Kepulauan Riau, Jalan Hang Tuah, Tanjungpinang, Rabu (17/12/2025) malam, dan dilakukan oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Kepri, T.S. Arif Fadillah, mewakili Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad.
Pantunesia dirancang sebagai aplikasi pelestarian budaya yang dikembangkan bersama para ahli pantun Melayu. Seluruh fitur di dalamnya tetap berlandaskan struktur, makna, dan filosofi pantun sebagai warisan budaya bangsa.
Penggagas Pantunesia, Dato Yoan S Nugraha, menyampaikan bahwa aplikasi ini lahir dari kegelisahan terhadap keterbatasan sarana penilaian pantun yang sesuai dengan kaidah budaya.
“Pantunesia ini lahir dari kegelisahan kami terhadap keterbatasan sarana penilaian pantun yang berbasis kaidah budaya,” ujar Yoan.
Yoan menjelaskan bahwa Pantunesia pertama kali dikembangkan pada akhir 2018 dalam bentuk kartu pantun fisik, kemudian berkembang menjadi aplikasi berbasis PowerPoint pada tahun 2022 dengan dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK). Namun, kedua versi tersebut dinilai masih memiliki keterbatasan dalam menentukan kualitas pantun.
“Siapa yang menilai pantun itu bagus atau tidak? Tanpa pakar yang mendampingi, tentu sulit memastikan kelayakannya,” katanya.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Pantunesia edisi ketiga dikembangkan dengan dukungan tim teknologi. Dalam versi terbaru ini, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dihadirkan sebagai penilai pantun berdasarkan kaidah pantun Melayu.
“AI ini bukan pembuat pantun, melainkan penilai yang memberikan skor, menunjukkan kekurangan, dan menyarankan perbaikan,” jelas Yoan.
Selain itu, Pantunesia juga tengah merancang pengembangan Large Language Model (LLM) khusus pantun yang dinamakan Pantul atau “Otak Budaya”.
“Otak Budaya ini kami rancang layaknya seorang guru pantun yang sangat berpengalaman, sehingga proses belajar pantun menjadi lebih akurat dan autentik,” ungkapnya.
Dalam sambutannya, T.S. Arif Fadillah menegaskan bahwa keberhasilan pengesahan ratusan OPK tidak terlepas dari peran aktif pemerintah daerah dalam melindungi dan memajukan kebudayaan.
Ia menyebutkan bahwa Pemprov Kepri terus melakukan inventarisasi, pencatatan, pengenalan, dan perlindungan terhadap Objek Pemajuan Kebudayaan sebagai bagian dari tanggung jawab pelestarian budaya daerah.
“Ini adalah bukti bahwa kekayaan budaya Nusantara, khususnya Kepulauan Riau, terus diakui di tingkat nasional maupun internasional, termasuk oleh UNESCO,” ujar Arif.
Arif juga memberikan apresiasi kepada Tim Pantunesia yang berhasil meraih Juara III Nasional di Kementerian Kebudayaan RI.
“Kami menyampaikan tahniah kepada Tim Pantunesia yang aplikasinya dilaunching di Kepulauan Riau. Semoga kolaborasi ini terus berlanjut dan memberikan kontribusi nyata bagi keberlanjutan kebudayaan Melayu,” katanya.
Menurut Arif, peluncuran Pantunesia diharapkan menjadi momentum untuk mempertemukan pelaku budaya, pelajar, mahasiswa, aparatur pemerintahan, akademisi, budayawan, serta komunitas seni dalam memperkuat ekosistem kebudayaan daerah.
“Kami menaruh harapan besar agar aplikasi ini dikelola secara terukur dan memberikan dampak yang lebih luas dalam mendukung pembangunan daerah berbasis budaya,” ujarnya.
Acara tersebut turut diisi dengan penyerahan penghargaan Kebaya Labuh sebagai warisan budaya tak benda UNESCO oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau, Juramadi Esram, kepada Asisten I T.S. Arif Fadillah, serta ditutup dengan pertunjukan pantun oleh Maestro Pantun Kepulauan Riau, Muhammad Ali atau Tok Alipun. ***














