BATAM – Sektor manufaktur masih menjadi tulang punggung perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), khususnya di kawasan industri Batam dan Bintan yang selama ini menjadi pusat aktivitas produksi berorientasi ekspor.
Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Kepulauan Riau Nyanyang Haris Pratamura saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Batam Tahun 2027, di Ballroom Grand Mercure Hotel Batam, Kamis (5/3/2026).
Menurut Nyanyang, industri manufaktur memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas perekonomian daerah, terutama karena sebagian besar aktivitas industri di Batam terhubung langsung dengan pasar ekspor internasional.
Ia menjelaskan bahwa kawasan perdagangan bebas Batam–Bintan–Karimun selama ini menjadi salah satu motor penggerak utama ekonomi Kepri.
Kawasan tersebut menampung berbagai perusahaan industri yang bergerak di sektor elektronik, komponen manufaktur, galangan kapal, hingga industri pendukung lainnya.
Keberadaan kawasan industri tersebut juga menjadi daya tarik bagi investasi, baik dari dalam maupun luar negeri.
Namun demikian, Nyanyang mengingatkan bahwa sektor industri di Batam sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global, terutama yang berkaitan dengan perdagangan internasional dan permintaan ekspor.
Karena itu, pemerintah daerah terus berupaya memperkuat daya saing industri serta menciptakan iklim investasi yang kondusif agar sektor manufaktur tetap mampu menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi di Kepri. ***
















