GESER UNTUK BACA BERITA
KEPRI

Nelson Yanry Buka Pelatihan Life Skill Warga Belajar

×

Nelson Yanry Buka Pelatihan Life Skill Warga Belajar

Sebarkan artikel ini

– PKBM Se-Provinsi Kepri Tahun 2014

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

BATAM (SK) — Dinas Pendidikan Provinsi Kepri menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Life Skill Warga Belajar Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tahun 2014. Kegiatan tersebut diselenggarakan mulai tanggal 26 hingga 29 Oktober 2014, dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri yang diwakilkan dengan Kepala Seksi Pendidikan Masyarakat Nelson Yanry S.Kom,.MM, bertempat di Hotel Virgo – Kota Batam, Minggu (26/10). Dan diikuti oleh 40 Warga Belajar PKBM Se-Provinsi Kepri.

Kepala Seksi Pendidikan Masyarakat Nelson Yanry S.Kom,.MM, dalam sambutannya mengatakan, Pendidikan masyarakat merupakan suatu proses dimana upaya pendidikan yang diprakarsai pemerintah diwujutkan secara terpadu dengan upaya penduduk setempat untuk meningkatkan kondisi sosial, ekonomi dan budaya yang lebih bermanfaat dan memberdayakan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat yang diprakarsai Direktorat Pendidikan Masyarakat, Direktorat Jendral Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional mencakup program Aksara Agar Berdaya (AKRAB) dalam kerangka kerja “Aksara Membangun Peradaban”.

“Dalam mendukung terlaksananya program-program tersebut dilakukan revatalisasi dan peningkatan kapasitas kelembagaan penyelenggara program pendidikan masyarakat, khususnya melalui program peningkatan mutu kelembagaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), serta sejumlah program pengembangan kemitraan antar lembaga pemerintah, swasta dan masyarakat,” ujar Nelson.

Menurut dia, PKBM hadir di Indonesia di tengah-tengah kondisi krisis sosial ekonomi nasional pada tahun 1998. Kehadiran PKBM sebenarnya memiliki latar belakang yang cukup panjang.

“Fakta menunjukkan bahwa pendidikan formal dan sistem persekolahan ternyata tidak cukup untuk menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, tingginya tingkat buta aksara bagi orang dewasa, tingginya tingkat pengangguran dan tingginya tingkat kemiskinan,” ungkapnya.

Dipihak lain, tambah Nelson, kebijakan pemerintah dalam pembangunan pendidikan sangat menitikberatkan pada pendidikan formal dan sistem persekolahan. Adapun perhatian pada pendidikan non formal masih sangat terbatas.

“Hal ini dapat dilihat dari alokasi anggaran dan fasilitas maupun berbagai sumberdaya lainnya yang jauh lebih besar dicurahkan bagi pendidikan formal dan sistem persekolahan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, sesungguhnya pendidikan non formal telah dikenal dalam peradaban manusia jauh sebelum adanya pendidikan formal dan sistem persekolahan. Namun pembinaan pendidikan nasional selama ini masih didominasi oleh pendidikan formal.

“Pembinaan pendidikan non formal dilakukan oleh pemerintah hanya melalui berbagai pendekatan proyek yang bersifat sementara dan kadangkala tidak berkelanjutan,” jelas Nelson.

Dimana, kata Nelson, cakupannyapun masih sangat terbatas pada beberapa jenis kebutuhan pendidikan yang bersifat nasional. Sementara pendidikan non formal yang diselenggarakan oleh masyarakat masih bertumpu pada jenis-jenis pendidikan yang memiliki nilai komersial sehingga dapat ditarik pembayaran dari masyarakat untuk membiayai kegiatan pendidikan tersebut.

Untuk itu, tambah Nelson, untuk meningkatkan efektivitas keberhasilan pendidikan non formal telah dilakukan berbagai upaya terhadap kiprah pendidikan non formal selama ini. Salah satunya dengan menyelenggarakan Life Skill Education atau Pendidikan Kecakapan Hidup.

“Life Skill Education atau Pendidikan Kecakapan Hidup adalah pendidikan yang memberikan kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan intelektual dan kecakapan vokasional untuk bekerja, berusaha dan atau hidup mandiri, sedangkan Orientasi dari Life Skills adalah membangun sikap kemandirian, untuk mendapatkan keterampilan sebagai bekal untuk bekerja dan mengembangkan diri (skilled orientation),” terangnya.

Misi dari Life Skill Education atau Pendidikan Kecakapan Hidup, tambah Nelson, adalah untuk meningkatkan kualitas ketrampilan, kecakapan hidup dan profesionalitas, bagian anggota masyarakat yang membutuhkan dalam rangka meraih kesejahteraan jasmani dan rohani, dengan menerapkan prinsip belajar sepanjang hayat dan untuk meningkatkan daya saing bangsa di era global.

“Adapun tujuan dari Life Skill Education atau Pendidikan Kecakapan Hidup adalah untuk melaksanakan program program pendidikan dan pelatihan yang mampu mengembangkan ketrampilan,keahlian dan kecakapan serta nilai nilai keprofesian untuk mendorong produktivitas sebagai tenaga kerja yang andal atau kemandirian berusaha, memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengikuti program khusus berbasis kompetesi, serta fasilitasi penempatan kerja pada dunia usaha/industry dan/atau berusaha mandiri,” bebernya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Kegiatan Izzuddien S.Sos mengatakan, tujuan Pelatihan Life Skill Warga Belajar PKBM adalah untuk melaksanakan program program pendidikan dan pelatihan agar pengelola PKBM di Provinsi Kepri mampu mengembangkan ketrampilan, keahlian dan kecakapan, serta nilai-nilai keprofesian untuk mendorong produktivitas sebagai tenaga kerja yang andal atau kemandirian berusaha.

Selain itu, bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat dalam hal ini pengelola PKBM di Provinsi Kepri untuk mengikuti program khusus berbasis kompetesi, serta fasilitasi penempatan kerja pada dunia usaha/industry dan/atau berusaha mandiri. Mengembangkan potensi dan membekali pengetahuan keterampilan kepada pengelola PKBM di Provinsi Kepri, agar dapat memberikan pengetahuan kepada warga belajar pada PKBM dengan kecakapan hidup debagai pribadi yang mandiri.

“Outcome (hasil) yang diharapkan dari kegiatan Pelatihan Life Skill Warga Belajar PKBM adalah meningkatnya ketrampilan, keahlian dan kecakapan serta nilai-nilai keprofesian pengelola PKBM di Provinsi Kepri untuk mendorong produktivitas warga belajar menjadi tenaga kerja yang andal atau kemandirian berusaha,” ujar Izzuddien.

Selain itu, kata Izzuddien, memberikan kesempatan kepada masyarakat dalam hal ini pengelola PKBM di Provinsi Kepri untuk mengikuti program khusus berbasis kompetesi, serta fasilitasi penempatan kerja pada dunia usaha/industry dan/atau berusaha mandiri, serta meningkatnya potensi dan pengetahuan keterampilan pengelola PKBM di Provinsi Kepri, agar dapat memberikan pengetahuan kepada warga belajar pada PKBM dengan kecakapan hidup sebagai pribadi yang mandiri. (SK-001)

LINK : http://en.calameo.com/read/0037453923100c66db3e1

banner 200x200
Preferensi Sumber
banner 482x100