Budi Ningsih
Instruktur Kursus Tata Busana LKP Amani Rumah Belajar Batam
PRESTASI : Juara I Apresiasi PTK PAUDNI Berprestasi Tingkat Provinsi Kepri Tahun 2014
Lestarikan Gonggong Sebagai Ciri Khas Kepri
Tanjungpinang (SK) — Provinsi Kepri sebagai daerah yang kental dengan nuansa Melayu memiliki berbagai ragam keunikan. Banyak potensi sumber daya yang ada di Kepri bisa digali dalam meningkatkan pendapatan baik untuk keluarga maupun daerah.Salah satunya adalah gonggong atau sejenis binatang laut yang menjadi ciri khas makanan di Provinsi Kepri yang kaya sumber daya lautnya. Gonggong saat ini juga dikenal dengan makanan yang bernilai gizi tinggi dan menjadi makanan favorit bagi masyarakat Kepri.Dari gonggong selain bisa dikonsumsi, juga dapat dimanfaatkan untuk hiasan dan lain sebagainya. Dengan tangan kreatif, saat ini gonggong dimanfaatkan untuk dijadikan oleh-oleh khas Kepri, misalnya dibuat hiasan, asbak rokok, pernak-pernik rumah dan lainnya.
Pengunjung baik dari luar Kepri maupun turis mancanegara yang berkunjung selalu menyempatkan membeli gonggong yang sudah dijadikan bahan untuk oleh-oleh atau cendera mata. Selain dibuat untuk oleh-oleh, ada juga pengrajin yang membuat gonggong ini menjadi motif untuk busana, misalnya baju batik maupun kain dengan motif gonggong.
Seperti halnya dengan Budi Ningsih, berkat kreativitasnya memadukan motif gonggong dengan membuat busana, akhirnya terpilih sebagai juara satu Apresiasi PTK PAUDNI Tingkat Provinsi Kepri tahun 2014 dengan judul karya tulisnya ‘Strategi Pembelajaran Menjahit Busana Nasional Wanita dengan Modifikasi Songket Kepri’.
Dipilihnya gonggong oleh Ningsih yang juga berprofesi sebagai Instruktur Kursus Tata Busana LKP Amani Rumah Belajar Batam, karena untuk melestarikan gonggong di Provinsi Kepri, sehingga diharapkan bisa dikenal oleh daerah lain.
“Di Kepri terkenal dengan batik gonggong, oleh karena itu kita padukan motif ini sebagai pembelajaran menjahit busana nasional wanita dengan modifikasi Songket Kepri,” kata wanita kelahiran Magelang 32 tahun silam ini kemarin.
Ningsih mengatakan, strategi pembelajaran yang ia ambil di lembaganya dengan memadukan motif gonggong 30 persen sebagai khas daerah yang dipadukan dengan kain songket.
“Ide seperti ini baru kita dapatkan dan dengan karya tulis yang dibuat mudah-mudahan mendapat respon yang baik nantinya diperlombakan ditingkat nasional mendatang,” imbuh dia.
Ningsih menyebutkan, tujuan dari strategi pembelajaran menjahit busana nasional wanita dengan modifikasi Songket Kepri yaitu setelah menyelesaikan materi ini, warga mampu belajar mendefinisikan pengertian busana nasional Wanita dengan modifikasi batik Gonggong.
Kemudian mengidentifikasi alat dan bahan jahit untuk busana nasional wanita modifikasi batik gonggong dan membuat busana nasional wanita dengan modifikasi batik gonggong.Sesuai dengan nilai-nilai perwatakan Melayu dalam Imej warna.
Lebih lanjut Ningsih menjelaskan, bahwa didalam satu penelitian etnografi seni dari Syed Ahmad Jamal (1992), dijelaskan warna memainkan peranan yang penting dalam kebudayaan Melayu.Mereka menggunakan ekspresi warna dalam berbagai simbol dan estetika, masyarakat Melayu gemar terhadap warna yang cerah, seperti warna kuning.
“Warna kuning penting dan salah satu warna yang populer dikalangan orang Melayu sebagai warna diraja yang penuh kebesaran,” katanya.
Disamping itu, lanjut Ningsih orang-orang Melayu percaya bahwa warna kuning sebagai warna diraja, warna kuning sebagai lambang kekuasaan raja-raja waktu dulu. Oleh karena itu, warna kuning pada zaman dulu jelas memperlihatkan perbedaan antara warna rumah orang biasa dengan istana raja, ini dapat disebut pula sebagai bukti bahwa adanya perbedaan antara warna milik raja dengan golongan hamba atau rakyat biasa.
Kemudian, makna warna bagi orang Melayu Riau adalah merupakan lambang atau simbol yang dapat membedakan status seseorang di dalam kehidupannya. Lambang warna juga dapat menandakan kepatuhan.Tetapi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tradisional Melayu mengartikan warna yaitu putih tanda kesucian dalam tata pakaian adat putih dipakai juga sebagai tanda berkabung.
Selanjutnya, merah sebagai tanda persaudaraan dan keberanian. Masyarakat pedalaman menggunakan warna sebagai warna panji dan payung untuk batin (kepala persukuan) sedangkan dalam peperangan kain merah selalu dikaitkan di pinggang.
Kuning lambang kesucian. Warna kuning di zaman raja Melayu masih berkuasa hanya boleh dipakai oleh keluarga raja. Biru lambang keperkasaan di sungai dan lautan. Dahulunya pakaian biru diperuntukkan bagi laksana kerajaan.
Hijau lambang kesuburan dan kemakmuran, Hitam lambang keperkasaan. Warna ini selalu dipakai oleh panglima dan hulubalang dan Keemasan sebagai lambang kejayaan dan kemegahan. Warna ini dahulu dipakai oleh raja yang sedang berkuasa.
“Kita berharap dengan karya tulis tersebut dapat dimengerti secara mudah dan dapat bersama- sama meningkatkan mutu pengetahuan dalam pembuatan busana nasional dengan sentuhan khas daerah,” imbuhnya. (SK-02)







