Satu Warga Lingga Terdeteksi Penyakit Filariasis

oleh

LINGGA (SK) — Satu warga Desa Langkap, Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga, terdeteksi mengidap penyakit kaki gajah (Filariasis), SM (32) diketahui mengidap filariasisi saat telah di rujuk ke Rumah Sakit Embung Fatimah (RSEF) Batam, filariasis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh cacing filaria yang penularnya dapat melalui berbagai jenis nyamuk, jadi, jangan anggap sepele dengan gigitan nyamuk.

“Awalnya belum diketahui, SM tertular penyakit kaki gajah atau filariasis, diperkirakan hanya mengalami penyakit biasa saja, namun, setelah melalui pemeriksaan di RSEF Batam, baru diketahui,” ujar dr. Hasri wijaya, Kasi Pelayanan Medis (Yanmed) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dabo Singkep, kepada Sijori Kepri, Kamis (27/8/2015).

Karena keterbatasan biaya, tutur Hasri wijaya, Pasien meminta pulang dan mendapat rujukan dari RSEF. Setelah beberapa hari di rumah, pasien kembali di bawa ke RSUD Dabo, untuk di RSUD Dabo, penanganan yang dapat kita lakukan hanya memasang kelambu terhadap pasien, karena di RSUD Dabo belum memiliki ruang isolasi, jadi hanya mengelambu pasien yang dapat kita lakukan agar pasien tidak digigit nyamuk.

“Karena penyakit ini, semua jenis nyamuk dapat menularkannya, penularan melalui gigitan nyamut tidak bereaksi dengan cepat, setelah nyamuk menggigit penderita penyakit kaki gajah dan nyamuk tersebut menggigit orang lain, saat itu orang tersebut telah tertular penyakit yang disebabkan cacing filaria, namun, perkembangan cacing filaria tersebut memakan waktu yang cukup lama, satu hingga dua tahun baru diketahui dan terdeteksi,” ucapnya.

Hasri wijaya menghimbau, kepada masyarakat, untuk pencegahanya, dengan pola hidup bersih di sekitar rumah, jangan sampai ada tempat-tempat nyamuk untuk berkembangbiak. Selain itu, ada program dari Pemerintah melalui Kementrian Kesehatan yang memberikan obat pencegahan filariasis selama lima tahun berturut-turut, bila ada pemberian obat tersebut agar masyarakat meminumnya, walau minum obat tersebut mempunyai efek samping, namun, masih dalam pengawasan tim medis untuk menghindari segala sesuatu yang tidak kita inginkan.

“Pemerintah telah mengucurkan dana hingga Triliunan Rupiah guna menuju 2020 Indonesia bebas filariasis, jadi, bila ada pemberian obat tersebut diminta masyarakat untuk meminumnya, karena kalau dibeli secara pribadi obat tersebut cukup mahal harganya,” ungkapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Rudi purwonugroho, mantan Anggota DPRD Lingga, menuturkan, bila telah ada warga yang tertular penyakit filariasis, harus segera dilakukan tindakan prefentif untuk mencegah penularan penyakit ini lebih luas lagi, tindakan prefentif yang dilakukan yakni melakukan penyuluhan dan penyemprotan, foging di Daerah tersebut agar masyarakat mengerti akan penyakit itu dan cara penularannya.

“Untuk tindakan prefensif, perlu dilakukan penanganan yang serius terhadap pasien, agar tidak menular kepada orang lain, meski Pemerintah telah memprogramkan pemberian obat filariasis secara masal, pemberiannya yang harus betul-betul diketahui, apakah masyarakat yang diberikan obat tersebut betul-betul telah memakannya, untuk itu, masyarakat yang diberikan obat tersebut harus memakannya di tempat dan tidak boleh dibawa pulang, karena bila obat ini dibawa pulang, apakah diketahui obat tersebut diminum apa tidak,” imbuhnya. (SK-Pus)

LIPUTAN LINGGA : PUSPANDITO
EDITOR : DEDI YANTO

dr Hasri wijaya, Kasi Yanmed RSUD Dabo (Photo : Puspandito)
dr Hasri wijaya, Kasi Yanmed RSUD Dabo (Photo : Puspandito)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.