”Ada yang dapat dibuat ubat, ada yang dapat dibuat racun. Ada yang berbuah ada yang tidak, ada yang berduri ada yang tidak, ada yang keras ada yang lunak, ada yang lurus ada yang bengkok, macam macam,” kata Atmadinata.
Itulah keanekaragaman. Sudah sejak lama mulai duduk di bangku sekolah, kita dididik untuk saling memahami keanekaragaman dalam berpendapat, terutama tentang nama Bandara Tambelan ini ada 4 nama yang diusulkan oleh masyarakat Tambelan, tentu setelah ditapis-tapis betul.
Sesuai ketentuan dalam Permenhub, masyarakat mengusulkan kepada Bupati. Tentu Bupati menapis lagi dari 4 menjadi 1. Kalau ke 4 diusulkan Bupati ke Menhub, tentu tidak baik juga. Alhamdulillah Bupati Bintan sudah cepat merespon aspirasi masyarakat Tambelan 1 dari 4 nama yg diusulkan.
”Bagi yang merasa nama yang dipilih oleh Bupati tidak pas, memangnya kalau Bupati pilih nama lain, orang lain pula yang mengusulkan nama yang berbeda apakah tidak boleh juga protes, makanya sudah-lah,” pintanya.
Menurut Atmadinata, saat ini tidak perlu diperdebatkan lagi. Semua pihak patut bersyukur, yang awalnya tidak ada Bandara, saat ini telah ada. Yang awalnya jika bepergian ke Tambelan, atau orang Tambelan bepergian ke luar, harus menempuh waktu lama, hadirnya Bandara, akses transportasi tersebut jadi cepat.
”Kita tidak perlu memperdebatkan nama Bandara. Yang harus kita lakukan, bersyukur, bahwa di Tambelan sudah ada Bandara. Sudah disinggahi pesawat penumpang,” katanya.
Susah juga untuk menyalahkan Bupati Bintan yang mengusulkan nama Kandil Bahar sebagai nama Bandara Tambelan. Atma merasa tentu beliau tidak serta merta, tidak ujug-ujug begitu saja mengusulkan nama tersebut tanpa dasar yang jelas.








