– Kios Yang Tutup Jadi Tempat Buang Air Kecil.
SIJORIKEPRI.COM, ANAMBAS — Pasar Tradisional yang terletak di Jalan Tanjung, Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas (KKA), sampai hari ini belum ada tanda-tanda kehidupan bagi para pedagang. Pasar yang dibangun dengan anggaran Rp 10 Milliar tersebut terkesan diterlantarkan.
Perhatian pemerintah pusat terhadap daerah perbatasan rasanya cukup maksimal. Pasalnya, pembangunan pasar tersebut merupakan bantuan pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, dengan alokasi anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) pada tahun 2009 lalu.
Pasar yang sudah dibangun pemerintah pusat tersebut, sampai hari ini belum memberikan dampak yang signifikan bagi para pedagang di pasar tersebut.
Fitra, salah satu pedagang yang sudah hampir 5 tahun bertahan dipasar tersebut, mengatakan, belum ada tindakan nyata dari Dinas Disperindagkop KKA dalam mengelola pasar.
“Pasar tradisional sampai hari ini belum ada kemajuan. Yang ada malah kondisi pasar makin memburuk. Seperti petugas pasar yang sudah di gaji tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Petugas kebersihan tidak pernah melaksanakan kewajibannya, dan dilantai atas ini bau pesing, sampah- sampah berserakan, tidak ada aktivitas menyapu, apalagi mengepel lantai,” kata Fitra, Selasa, (18/04/2017).
Miris memang, pasar ini juga sempat dikunjungi orang nomor satu di Anambas dalam program kerja 100 hari masa kerja pasca dilantiknya Bupati KKA.
Fitra juga mengatakan, kios-kios pasar banyak yang tutup, tidak beroperasi sama sekali. Sehingga dijadikan tempat buang air kecil oleh orang-orang yang tak bermoral.
“Bagaimana pengunjung mau datang ke pasar tersebut. Kita saja pedagang tidak bisa bertahan lebih dari 30 menit akibat bau pesing yang menyengat. Saya pribadi tidak tahan. Bisa saja nanti akan berakibat infeksi pernapasan, akibat virus yang berasal dari kotoran manusia,” keluhnya.(SK-AY/C)








