GESER UNTUK BACA BERITA
Example 325x300
HEADLINEJABODETABEK

Lakukan Pertemuan dengan Ketum JMSI, Pemerintah Sudan Ajak JMSI Kembangkan “Strategi Alternatif”

×

Lakukan Pertemuan dengan Ketum JMSI, Pemerintah Sudan Ajak JMSI Kembangkan “Strategi Alternatif”

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum JMSI, Teguh Santosa dan Duta Besar Sudan, Yassir Mohammed Ali. (Foto : JMSI)

Teguh Santosa: Pers Nasional Wajib Kembangkan Hubungan Antar Bangsa yang Positif

JAKARTA — Pemerintah Republik Sudan sedang berusaha meningkatkan kerja sama dengan Republik Indonesia.

Kerja sama itu baik berupa ekonomi, perdagangan dan investasi, maupun kerja sama politik di forum-forum internasional, dan kerja sama kebudayaan yang dapat meningkatkan pemahaman masyarakat kedua negara satu sama lain. 

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Untuk itu, Sudan membutuhkan dukungan dari masyarakat pers nasional di Indonesia. 

Demikian disampaikan Duta Besar Sudan, Yassir Mohammed Ali, ketika bertemu Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (Ketum JMSI), Teguh Santosa, di Kedubes Sudan, di Kawasan Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat, 24 Maret 2023, siang.

Dubes Ali mengatakan, dirinya menyadari bahwa pemahaman masyarakat Indonesia mengenai Sudan, dan sebaliknya pemahaman masyarakat Sudan mengenai Indonesia masih cukup rendah. 

Karena itu, lanjutnya, dibutuhkan strategi khusus untuk meningkatkan saling pemahaman di antara masyarakat kedua negara. 

BACA JUGA :  Bersama BRK Syariah, Gubernur Ansar Ahmad Raih Penghargaan TOP Pembina BUMD 2024

Menurut Ali, ia merasa sangat senang dapat bertemu dengan Teguh, yang selain seorang wartawan senior dan pengelola media, juga dikenal aktif di berbagai organisasi, seperti di PP Muhammadiyah dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES). 

Di samping itu, Teguh juga merupakan pengajar di prodi Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. 

Teguh juga tercatat pernah menjadi Ketua Bidang Luar Negeri Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Ketua Bidang Luar Negeri Pemuda Muhammadiyah. 

Disampaikan lagi Dubes Ali, bahwa potensi ekonomi kedua negara saling melengkapi. Bagi Sudan, misalnya, Indonesia merupakan sumber bagi spare part atau suku cadang kendaraan bermotor, obat-obatan, dan berbagai produk furnitur. Salah satu produk unggulan Indonesia yang dikenal luas di Sudan adalah kertas.

Sementara Sudan dapat menjadi alternatif supplier daging bagi Indonesia. Sudan juga merupakan produsen kacang-kacangan dan gom atau getah Arab yang dibutuhkan dalam industri makanan dan produk olahan lainnya.

BACA JUGA :  Ketua KPK Akan Resmikan Kantor JMSI Kepri di Batam

“Tentu hubungan ekonomi, baik perdagangan maupun investasi, membutuhkan banyak aturan pendukung. Sudan berharap Preferential Trade Agreement (PTA) kedua negara dapat segera disusun untuk mempermudah hubungan ekonomi,” ujar Teguh Santosa, dalam keterangannya.

“Terlepas dari itu, menjadi kewajiban bagi kita masyarakat pers nasional untuk ikut mempromosikan hubungan antar bangsa yang positif, saling mengenal dan saling memahami. Hubungan people to people yang baik adalah syarat utama bagi hubungan-hubungan lain kedua negara,” sambungnya.

Hubungan Indonesia dan Sudan telah terjalin sejak lama. Di awal abad ke 20, ulama Makah yang berasal dari Sudan, Syeikh Ahmed Surkati Al Anshori, berkunjung dan menetap di Indonesia atas undangan Jamiat Kheir di Tanah Abang, Jakarta. 

Ia datang bersama dua sahabatnya, Syeikh Muhammad Tayyib Al Maghribi dan Syeikh Muhammad bin Abdulhamid Al Sudani.

Di Indonesia, Syeikh Ahmed Surkati Al Anshori mendirikan organisasi bergerak di bidang pendidikan dan dakwah. Pada tahun 1914 organisasi itu diresmikan dengan nama Al Irsyad Al Islamiyyah, dan masih eksis sampai saat ini. 

BACA JUGA :  Ketua Limpul Buat Konten Bareng JMSI, Seru dan Kocak

Di antara ulama Indonesia yang mendukung kehadiran Syeikh Ahmed Surkati pada masa itu adalah pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, dan pendiri Persatuan Islam (Persis) KH Zamzam dan KH Ahmad Hassan. 

Presiden Sukarno juga memiliki simpati tersendiri pada Sudan. Ketika Konferensi Asia Afrika (KAA) di bulan April 1955, delegasi Sudan yang dipimpin Ismail Al Azhari hadir sebagai bagian dari delegasi Mesir. 

Di arena KAA, Bung Karno menyediakan meja khusus untuk Sudan yang terpisah dengan Mesir. Di atas meja itu panitia KAA memasang bendera putih bertuliskan Sudan. 

Setahun setelah KAA, Sudan merdeka dari Mesir dan Ismail Al Azhari menjadi presiden pertama negara di timur Afrika yang bersisian dengan Laut Merah itu. ***

(red)