TANJUNGPINANG – Pulau Penyengat menjadi saksi bisu kejayaan Kerajaan Riau-Lingga pada abad ke-19. Pulau kecil yang terletak di seberang Kota Tanjungpinang itu tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga sebagai pusat peradaban Islam dan kebudayaan Melayu.
Salah satu simbol paling menonjol dari kejayaan tersebut adalah Masjid Raya Sultan Riau. Masjid bersejarah ini menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan, serta musyawarah kerajaan. Dari tempat inilah nilai-nilai Islam diperkuat dan diwariskan kepada masyarakat Melayu.
Pada masa itu, Pulau Penyengat dihuni para bangsawan, ulama, dan cendekiawan yang berperan besar dalam membangun tradisi intelektual Islam. Di antaranya adalah Syekh Khalifah Syihabuddin bin Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang diangkat sebagai Mufti dan Kadi Kerajaan Riau-Lingga pada tahun 1842.
Kejayaan Kerajaan Riau-Lingga tidak hanya terlihat dari aspek politik dan administrasi, tetapi juga dari kekuatan intelektual dan spiritualnya. Sinergi antara sultan dan ulama menjadikan Penyengat sebagai pusat pembelajaran agama, penulisan karya sastra Melayu, serta pengembangan hukum Islam.
Tradisi keilmuan yang tumbuh di Pulau Penyengat turut membentuk identitas Melayu yang religius, beradab, dan menjunjung tinggi nilai budaya. Pengaruhnya bahkan melampaui batas wilayah kerajaan hingga ke kawasan Nusantara dan Semenanjung Melayu.
Hingga kini, berbagai situs bersejarah di Pulau Penyengat masih terjaga dan menjadi tujuan wisata religi dan sejarah. Tradisi keagamaan seperti haul ulama terus dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan spiritual masa lalu.
Pulau Penyengat pun tetap dikenang sebagai simbol kejayaan Kerajaan Riau-Lingga, sekaligus pengingat akan pentingnya peran agama dan ilmu pengetahuan dalam membangun peradaban Melayu. ***
















