BATAM (SK) — Buruh Batam kepung Kantor Walikota jeritkan berbagai tuntutan yang di rasa sangat menyesakkan dada. Dari pagi hingga siang hari dibawah terik matahari, para buruh masih saja berjuang menjeritkan berbagai tuntutan yang masih belum banyak di dengar pemerintah, Selasa, (20/10/2015) kemaren.
Aparat keamanan jajaran Polda Kepri pun tetap siap berjaga hingga aksi buruh selesai.
“Kami akan tetap berjaga sampai kapan waktunya rekan-rekan buruh ini selesai beraksi. Saya berharap semoga perundingan ataupun pertemuan dengan para wakilnya di dalam kantor Walikota juga segera selesai, dan segala permasalahan buruh pun terselesaikan,” kata mantan Kapolsek Sei Beduk Kompol. Firdaus disela-sela aksi buruh.
“Jangan bapak-bapak pejabat bilang kalau buruh bisa pakai handphone mahal. Jangan bilang kalau buruh bekerja naik kotor mahal. Kenapa bapak-bapak pejabat bisa bilang begitu. Kami masih hidup dibawah garis layak paaaak. Tolong dengar jeritan kami,” Jerit Orator buruh penuh semangat perjuangan.
Para buruh terus menjerit dan menjerit mengungkapkan perasaannya.
“Coba kami bertanya, kenapa bapak-bapak pejabat bisa pakai mobil mewah, bisa punya rumah mewah, bisa hidup mewah, sedangkan gaji tidak jauh dari gaji buruh. Dari mana duit itu paaaak. Ayo tolong jawab. Sedang kami masih hidup di bawah standar hidup layak. Kami semua para buruh masih hidup susah,” jerit Sang Orator lagi.
Disampaikan juga, selanjutnya oleh Panglima Garda Metal Suprapto, bahwasanya, pihaknya tetap saja menolak apapun bentuk Peraturan Pemerintah yang tidak memihak kepada buruh.
“Pokoknya kami menolak keras apapun bentuk Peraturan Pemerintah yang tidak memihak kepada buruh. Seperti Peraturan pengupahan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kami kaum buruh ini. Semua itu hanya akan menyengsarakan buruh saja,” tegas Suprapto dengan penuh harap Pemerintah akan mendengarkan jeritan kaum buruh.
Para pejuang buruh Kota Batam terus saja tidak bosan-bosannya menjeritkan berbagai tuntutan agar pemerintah memperhatikan nasib mereka. Dari masalah Upah Minimum Kota hingga tuntutan kepada Pemerintah agar bisa mengontrol harga sembako dengan baik, sehingga harga tidak melambung tinggi yang membuat rakyat menjadi sengsara saja. (SK-Nn)
LIPUTAN BATAM : SURATNO
EDITOR : RUSMADI















