Dalam perspektif SWOT (Strength – Weakness – Opportunity – Threats) ‘ganggguan’ dari para broker itu merupakan upaya untuk menggerus kepercayaan para investor (potensial) dengan mengeksploitasi kelemahan-kelemahan yang ada pada PT Asinusa dan kelengkapan infrastruktur secara umum.
“Oleh karena itu setiap kelemahan atau ‘loopholes’ segera dilakukan perbaikan. Misal dalam aspek SDM, peningkatan skill profesional dan juga kemampuan berbahasa Inggris. Dari aspek infrastruktur temasuk kapasitas dermaga, kelistrikan, teknologi informasi, floating storage unit (FSU), cold storage (untuk ikan segar, bahan-bahan pangan) dan lainnya. ‘Gangguan’ dari para broker tidak perlu disikapi secara berlebihan,” ujarnya.
Secara prinsip kawasan pulau Nipa dibagi menjadi zona militer, zona ekonomi, dan zona konservasi. Dalam konteks ekonomi dan bisnis, yakni pada kawasan untuk kegiatan ekonomi atau bisnis, infrastruktur transportasi terbatas untuk para penumpang tujuan khusus (investor) dapat dikembangkan termasuk helipad dan landasan seaplane. Sementara dermaga, dalam jangka pendek dan menengah, cenderung untuk aktivitas ‘ship to ship’, layanan refueling (bunkering services), pembersihan kapal, dan lainnya.
Fasilitas akomodasi terbatas bisa diselenggarakan oleh PT. Asinusa jika dipandang menguntungkan. Pengembangan sarana dan prasarana transportasi tentu dengan mempertimbangkan ‘potential demand’, misalnya kemungkinan pengembangan pariwisata, budidaya ikan kerapu, pengembangan kawasan permukiman terbatas (untuk para pekerja dan keluarganya) dan lainnya.
“Namun pengembangan pariwisata dan permukiman, kendati dalam skala kecil, harus tetap mempertimbangkan kapasitas serta ketersediaan air bersih dan prasarana dasar lainnya,” ujarnya.
















