TANJUNGPINANG – Gangguan rute penerbangan global akibat konflik geopolitik mulai berdampak ke Indonesia, terutama pada mobilitas wisatawan mancanegara dan biaya perjalanan internasional.
Dampak rute penerbangan global terganggu ini disampaikan Widiyanti Putri Wardhana, Menteri Pariwisata, yang menilai kondisi tersebut dapat mempengaruhi sektor pariwisata secara signifikan.
“Pariwisata pada hakikatnya sangat bergantung pada kelancaran mobilitas antarnegara. Ketika mobilitas tersebut terganggu, baik karena faktor logistik, ekonomi maupun geopolitik, maka sektor pariwisata juga akan terdampak,” ujar Widiyanti, dalam webinar Tourism Under Fire yang digelar Ikatan Alumni NHI Bandung, Senin (16/3/2026).
Menurut Widiyanti, kawasan Timur Tengah memiliki peran strategis sebagai hub penerbangan global yang menghubungkan wisatawan dari Eropa dan Amerika menuju Asia, termasuk Indonesia.
Namun, meningkatnya konflik di kawasan tersebut membuat sejumlah maskapai harus menyesuaikan rute penerbangan dengan menghindari wilayah udara tertentu.
Penyesuaian ini berdampak pada durasi penerbangan yang lebih panjang serta peningkatan biaya operasional maskapai, yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga tiket bagi penumpang.
Selain itu, kondisi ini juga berpotensi menurunkan minat wisatawan untuk melakukan perjalanan jarak jauh, termasuk ke Indonesia.
Data hingga 10 Maret 2026 menunjukkan terdapat gangguan pada sembilan rute internasional yang berdampak pada mobilitas sekitar 47.000 penumpang.
Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, menyebutkan bahwa gangguan ini menjadi bagian dari tekanan yang lebih luas terhadap sektor pariwisata nasional.
“Situasi ini semakin kompleks dengan meningkatnya harga avtur yang turut menekan biaya operasional penerbangan,” jelas Airlangga.
Menurut Airlangga Hartarto, dampak gangguan penerbangan ini tidak hanya dirasakan oleh maskapai dan wisatawan, tetapi juga sektor turunan seperti perhotelan, restoran, transportasi wisata, hingga pelaku UMKM.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah terus mendorong berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas sektor pariwisata.
Beberapa di antaranya meliputi perluasan kebijakan bebas visa, penguatan pasar domestik, serta pemberian stimulus transportasi seperti diskon tiket pesawat rata-rata 18 persen dan diskon transportasi lainnya hingga 30 persen.
Langkah ini diharapkan mampu menjaga daya tarik pariwisata Indonesia sekaligus mengurangi dampak dari gangguan konektivitas penerbangan global. ***
















