TANJUNGPINANG β Bangunan bersejarah dan warisan budaya bukan satu-satunya hal yang menarik perhatian pelajar asal Singapura selama berada di Pulau Penyengat. Justru kehidupan sehari-hari masyarakat Melayu menjadi pengalaman yang paling membekas bagi mereka.
Hal itu diungkapkan Pendiri PulauPenyengatDotId, Raja Farul, saat menceritakan pengalaman para pelajar Singapura yang mengikuti program edukasi budaya di Pulau Penyengat.
Menurut Farul, para peserta tidak hanya tertarik mempelajari sejarah Melayu, tetapi juga antusias menyaksikan secara langsung bagaimana masyarakat menjalankan tradisi dan nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari.
βIni yang keenam kalinya kami laksanakan. Mereka belajar, menyaksikan langsung adab dan tata krama orang Melayu dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga mengenalkan tradisi dan adat perkawinan orang Melayu,β kata Farul, Minggu, 7 Juni 2026.
Selama lima hari empat malam berada di Pulau Penyengat, para pelajar tinggal bersama masyarakat dan mengikuti berbagai aktivitas yang menjadi bagian dari keseharian warga.
Melalui pengalaman tersebut, mereka dapat melihat secara langsung bagaimana adab, tata krama, budaya gotong royong, serta berbagai tradisi Melayu masih dijalankan dalam kehidupan masyarakat setempat.
Farul mengatakan ketertarikan para pelajar justru lebih banyak muncul ketika mereka berinteraksi dengan warga dan menyaksikan kehidupan masyarakat dari dekat.
βKeseharian, dan tradisi kita justru sangat menarik perhatian mereka. Selama lima hari, empat malam mereka menginap di Penyengat. Hingga merasakan betul keseharian hidup orang Melayu,β ujarnya.
Menurutnya, pengalaman seperti itu sulit diperoleh melalui kunjungan wisata biasa. Dengan tinggal bersama masyarakat, para peserta dapat memahami budaya Melayu secara lebih mendalam dan menyeluruh.
Program yang digelar melalui kerja sama PulauPenyengatDotId dan Nusantara Connect Singapore tersebut telah berlangsung enam kali. Selain mengenalkan sejarah dan budaya Melayu, kegiatan ini juga menjadi sarana pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara generasi muda Indonesia dan Singapura.
Farul berharap kerja sama tersebut dapat terus berkembang sehingga semakin banyak generasi muda yang mengenal budaya Melayu secara langsung melalui pengalaman hidup bersama masyarakat.
Melalui program ini, Pulau Penyengat tidak hanya menjadi destinasi wisata sejarah, tetapi juga ruang pembelajaran budaya yang memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Melayu tetap hidup dalam keseharian masyarakat hingga sekarang. ***












