Dalam perjalanan menakhodai “kapal bisnis” Asinusa, Dimas mengaku menemukan praktik persaingan tidak sehat di lingkup bisnis kepelabuhan ini.
“Ya, ada beberapa kali kami rasakan, biasanya dalam bentuk black campaign (kampanye hitam), yang dihembuskan oleh pesaing dari luar negeri, ” ungkap Dimas.
Tapi, kata Dimas, Asinusa tetap berusaha tidak fokus kepada issue issue miring yang tidak dapat dipertanggungjawabkan tersebut. “Yang kami fokuskan adalah bagaimana kami lebih meningkatkan pelayanan untuk para pengguna jasa kami,” katanya.
Dimas percaya, di era perdagangan bebas ini, tingkat kepuasan pelangganlah pada akhirnya akan memutuskan rantai mitos yang beredar. Pengalaman mereka dalam berbisnis dengan Asinusa menjadi bukti yang dapat berbicara secara sendirinya dalam industri ini.
Dengan berpegang pada nilai-nilai perusahaan Asinusa, kata Dimas, yakni untuk fokus pada area service (pelayanan), secure (keamanan) dan health & safety (keselamatan), serta kenyamanan, “Alhamdulillah sampai saat ini kami mampu menjawab issue issue miring tersebut,” ungkap Dimas optimis.
Dia menekankan, selain usaha dan upaya Asinusa dalam meningkatkan pelayananan dan melakukan inovasi bisnis, peranan dan dukungan Pemerintah Indonesia sangat diperlukan untuk meningkatkan daya saing NKRI dengan negara tetangga khususnya Singapura dan Malaysia.
“Sehingga, pengembangan potensi Pulau Nipa sebagai PPKT atas dasar konsep Pertahanan Berbasis Ekonomi dapat benar-benar terwujud dan mungkin dapat meningkatkan potensi pendapatan negara,” harap Dimas.
















