– Masyarakat Hanya Diberi Konpensasi 30-40 Ribu Rupiah.
– Apakah Ini Konpensasi, atau Uang Sogokan ???
SIJORIKEPRI.COM, KARIMUN — Beberapa tahun sebelumnya, sekitar Tahun 2015, masyarakat Sawang, Kecamatan Kundur Barat, Kabupaten Karimun, pernah menolak keberadaan KIP (Kapal Isap Produksi) timah, namun kini ada yang masuk dan beroperasi lagi.
Kini ada 6 (enam) KIP yang beroperasi di sekitar perairan nelayan Sawang, namun parahnya, nelayan dan sebagian masyarakat hanya diberi konpensasi sebesar Rp 30.000,- hingga Rp 40.000,- saja.
Ketua Pemuda di Sawang, IG, mengatakan, ada dari pihak mitra yang Humasnya bernama Topy, yang didampingi perwakilan PT Timah, Yory, sebelumnya sudah bertemu dengan masyarakat, dan pihak nelayan, tokoh pemuda dan Lurah-nya, yang bernama Persada.
Menurutnya, pada saat pertemuan itu, para pemuda minta dari pihak KIP mempekerjakan sebagian anak-anak Sawang, namun ditolak.
“Kita hanya minta sekitar 25 orang saja, tapi mereka tidak bersedia menerima sebanyak itu, sehingga pertemuan menemui jalan buntu,” ungkapnya, melalui Handphone-nya, Minggu, (12/11/2017).
Diawal pertemuan yang tidak tuntas itu, diketahui rencananya 3 (tiga) KIP saja yang akan masuk, tiba-tiba melalui Kelurahan yang berkoordinasi dengan pihak KIP, konpensasi untuk nelayan dan pemuda sudah berjalan, bahkan untuk tanda tangan masyarakat hanya dibayar Rp 30.000,- hingga Rp 40.000,- tidak merata.
IG dan sebagian masyarakat dan pemuda, merasa pemberian konpensasi yang diberikan oleh mitra PT Timah tersebut dianggap tidak mendidik, karena yang diberikan tidak sesuai. Sedangkan keberadaan KIP tersebut diperkirakan akan merusak kondisi perairan, dan tentunya berpengaruh terhadap hasil tangkapan nelayan.
“Yang kita kesalkan, permohonan kita agar pemuda Sawang dilibatkan bekerja sebagai anak daerah diabaikan, sekarang justru masuk lagi 3 (tiga) KIP lagi, sehingga jumlahnya 6 (enam) KIP,” katanya kesal.
Kita juga jadi bingung, tambah IG, apakah ini konpensasi, ataupun uang sogokan kepada masyarakat nelayan dan pemuda. Padahal waktu pertemuan kemarin ribut, dan bubar begitu saja, tanpa keputusan.
Kita selaku pemuda, lanjutnya, bukannya mau mengganggu jika ada kerja sama dengan PT Timah, tapi kalau kita biarkan saja, dan dibodohi dengan uang yang tidak seberapa untuk apa. Makanya kami memperjuangkan kalau bisa menerima pemuda tempatan.
Kita juga kesalkan, Ketua Nelayan setempat justru menerima, tapi efeknya merugikan anak cucu kita kedepannya. Jadi kita tidak mau.
“Dalam waktu dekat, kami dan msyarakat yang menolak akan melayangkan surat ke Bupati Karimun, Aunur Rafiq. Sudah banyak juga dukungan masyarakat setempat, dan saat ini sudah lebih dari 200 (dua ratus) orang lebih, dan semakin bertambah lagi,” pungkasnya. (SK-MU)








