Fikrizal: “KNPI Itu Organisasi Resmi, Bukan Warung Berbaliho”
LINGGA — DPD KNPI Kabupaten Lingga menyatakan penolakan tegas terhadap pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) IV KNPI Provinsi Kepulauan Riau (kepri) yang digelar di Batam pada Sabtu, 12 Juli 2025. Ketua DPD KNPI Lingga, Fikrizal, menyebut Musda tersebut tidak memiliki legitimasi secara struktural dan tidak mewakili suara resmi kepemudaan dari daerah.
“Musda itu ibarat pesta ulang tahun yang tak diundang dan tak punya akta lahir. Jadi kalau ada yang mengatasnamakan KNPI Lingga dalam forum itu, jelas bukan dari dapur kami,” tegas Fikrizal.
Menurutnya, kepengurusan KNPI di Kabupaten Lingga hanya satu, solid, dan berada di bawah naungan DPD KNPI Provinsi Kepri pimpinan M Teddy Nuh, serta secara nasional dikomandoi oleh Ketua Umum M Ryano Panjaitan dan Sekjen Almanzo Bonara.
“Kami ini organisasi, bukan orkestra bebas genre. Kepengurusan kami diakui oleh Kemenkumham. Kalau ada yang bikin Musda tanpa garis struktural, ya itu hanya ngopi berjamaah yang dikira rapat pemuda,” sindirnya.
Tiga Sikap Resmi DPD KNPI Lingga
Dalam pernyataannya, DPD KNPI Lingga menyampaikan tiga sikap resmi terhadap Musda IV versi kubu Endang Dewi Sucowati dan Haris Pratama:
- Menolak keabsahan Musda IV KNPI Kepri karena tidak memiliki legitimasi organisasi dan tidak berakar dari struktur resmi DPD KNPI di kabupaten/kota.
- Menegaskan bahwa KNPI yang sah adalah KNPI yang memiliki legalitas dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.
- Mengajak seluruh pemuda di Kepri untuk tidak terjebak dalam “politik branding” berkedok Musda, karena KNPI adalah wadah perjuangan, bukan panggung pencitraan.
Fikrizal juga menyayangkan fenomena perpecahan internal pemuda akibat konflik kepentingan, dan menyoroti kecenderungan sebagian pihak yang lebih fokus pada atribut organisasi dibanding kontribusi nyata.
“Jangan karena ingin tampil di TV atau naik panggung, pemuda rela jadi pion dalam catur politik orang lain. KNPI itu bukan warung franchise, yang bisa dibuka siapa saja asal punya spanduk,” ucapnya.
Ia mengajak pemuda Kepri, terutama di Lingga, untuk kembali ke semangat awal: memperjuangkan kepentingan masyarakat dan menjaga soliditas gerakan pemuda. Bukan terjebak dalam konflik kepentingan berkedok regenerasi. ***










