TANJUNG PINANG — Banyak yang belum menyadari bahwa hari pertama perayaan Imlek dijadikan momen untuk bersilahturahmi bersama keluarga. Ritual sembahyang biasanya baru dilakukan pada hari kedua atau ketiga. Oleh karena itu, banyak vihara di Tanjungpinang yang masih sepi dari pengunjung yang ingin beribadah pada hari Senin (08/02/2016).
Vihara Analogi Kitesvara Graha di KM 14 terlihat sepi dari pengunjung, demikian pula dengan Vihara Cetiya Bodhi Sasana.
Marita, penjaga Vihara Analogi Kitesvara Graha, mengatakan bahwa vihara biasanya ramai dikunjungi pada hari kedua perayaan Imlek. Selain warga Tionghoa, vihara juga sering dikunjungi oleh warga pribumi yang ingin berkreasi di sana.
Di Vihara Analogi Kitesvara Graha, terdapat empat tempat untuk melakukan Sembayang Khuanciang Tie, yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu.
“Biasanya baru pada hari kedua sampai hari kelima, pengunjung mulai ramai datang, namun tahun ini jumlah pengunjung yang ingin bersembahyang masih sedikit,” ujar Marita.
Dia juga berharap agar perayaan Imlek tahun ini membawa berkah bagi semua manusia.
“Semoga di tahun monyet api ini, pintu rejeki semua terbuka sesuai dengan shio-nya,” tambahnya.
Di Vihara Cetiya Bodhi Sasana, hanya beberapa orang yang datang untuk bersembahyang.
Hal serupa diungkapkan oleh Koko, penjaga Vihara Cetiya Bodhi Sasana, yang mengatakan bahwa pada hari kedua hingga kelima, biasanya banyak orang datang untuk bersembahyang.
Denis, salah satu pengunjung vihara, menyatakan bahwa dia dan keluarganya mengunjungi Vihara Analogokitesvara Graha untuk bersembahyang meminta kemurahan rejeki dan kesehatan.
“Saya bersama keluarga datang kemari untuk memohon keselamatan rejeki dan kesehatan,” ucapnya. (SK-BA)















