TANJUNGPINANG – Konferensi internasional The First Global Conference on Waqf Development (GLOW) 2025 digelar oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) bersama Bank Indonesia (BI) sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2025. Forum bergengsi ini mengusung tema besar “Sustainable Waqf Amidst Global Uncertainty: Aligning with Equitable Future” yang berfokus pada penguatan peran wakaf dalam mendorong pembangunan ekonomi dan sosial dunia. Kegiatan tersebut diselenggarakan secara hybrid pada 8-10 Oktober 2025 di JIEXPO Convention Center, Kemayoran, Jakarta.
Salah satu dosen muda dari STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Dwi Vita Lestari Soehardi, berhasil menorehkan prestasi internasional yaitu terpilih sebagai presenter dalam ajang “The 1st Global Conference on Waqf Development (GLOW) 2025”, sebuah forum bergengsi yang menghimpun para pakar ekonomi Islam dunia.
Dalam konferensi internasional tersebut, Dwi Vita Lestari S, M.Pd berkolaborasi dengan dua akademisi lain, yakni Prof. Dr. Andri Soemitra, M.A. yang merupakan Guru Besar Ekonomi Islam dari UIN Sumatera Utara dan Ratna Susanti, M.H. dari STAIN Sultan Abdurrahman Kepri.
Mereka mempresentasikan karya ilmiah berjudul: “Empowering Muslim Women Entrepreneurs Through Waqf Based Digital Platforms: A Pathway to Gender Equitable Futures.”
Riset tentang Digitalisasi Wakaf dan Pemberdayaan Perempuan Muslim. Dalam penelitiannya, Dwi Vita dan tim menyoroti bagaimana platform digital berbasis wakaf dapat menjadi solusi inovatif untuk meningkatkan akses pembiayaan bagi perempuan Muslim pelaku usaha, khususnya di sektor ekonomi halal dan UMKM.
Studi ini menekankan pentingnya integrasi antara Maqashid Syariah, teknologi digital, dan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-5 (Kesetaraan Gender) dan ke-8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).
“Wakaf produktif yang dikelola secara digital bukan hanya memperkuat aspek sosial ekonomi umat, tetapi juga membuka peluang bagi perempuan untuk menjadi motor penggerak ekonomi halal,” jelas Vita saat diwawancarai usai sesi presentasi virtual.
Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dan bibliometrik analysis dengan perangkat lunak VOSviewer, yang memetakan keterkaitan antara Islamic social finance, digital platforms, women empowerment, dan SDGs.
Hasilnya menunjukkan empat klaster utama yang saling terhubung:
- Keuangan Sosial Islam (termasuk wakaf dan mikrofinansial Islam) sebagai sumber daya berkelanjutan.
- Platform Digital dan Industri Halal sebagai penggerak transformasi.
- Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender sebagai hasil utama.
- SDGs dan Maqasid Syariah sebagai kerangka global pembangunan berkelanjutan.
Kontribusi untuk Ekonomi Syariah dan Ekosistem Digital Halal
Karya ilmiah ini memberikan kontribusi nyata terhadap wacana akademik tentang inovasi keuangan sosial Islam dan arah kebijakan ekonomi digital yang berkeadilan gender.
Penelitian ini juga menyoroti potensi besar Indonesia di sektor wakaf tunai, yang mencapai Rp180 triliun per tahun menurut Badan Wakaf Indonesia (BWI), namun baru terealisasi sekitar 1%.
Dengan pemanfaatan teknologi seperti blockchain, crowdfunding syariah, dan smart contract, model pengelolaan wakaf diharapkan menjadi lebih transparan, akuntabel, dan partisipatif.
Mewakili Kepri di Kancah Internasional
Keterlibatan Dwi Vita Lestari S dalam forum internasional ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat akademik Kepulauan Riau. Sebagai dosen muda sekaligus penggiat ekonomi syariah dan gaya hidup halal, Vita aktif mengembangkan literasi ekonomi Islam di daerah, termasuk melalui kegiatan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kepri.
“Ini bukan hanya capaian pribadi, tetapi juga bentuk kontribusi akademik dari Kepri untuk dunia,” ujarnya, Rabu (29/10/2025).
“Kami ingin menunjukkan bahwa inovasi ekonomi syariah, termasuk digitalisasi wakaf dan pemberdayaan perempuan, dapat berangkat dari daerah,” tambah Vita, Sekretaris Umum MES Kepri.
Konferensi GLOW 2025 yang diselenggarakan secara hybrid ini diikuti oleh ratusan akademisi dari berbagai negara, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Arab Saudi, Pakistan, dan Inggris.
Tema besar yang diangkat, “Revitalizing Global Waqf Development in the Digital Era,” menyoroti transformasi wakaf sebagai instrumen keuangan sosial Islam yang adaptif terhadap era digital dan perubahan sosial global.
Melalui partisipasinya, Dwi Vita Lestari Soehardi menunjukkan bahwa dosen dan peneliti dari daerah pun mampu berkiprah di kancah internasional, membawa gagasan “Ekonomi Syariah Inklusif dan Berkeadilan Gender” ke panggung dunia.
“Wakaf digital bukan hanya instrumen keuangan, tapi juga gerakan sosial menuju kesejahteraan umat,” pungkas Vita. ***








