TANJUNGPINANG – Rencana pembangunan Monumen Bahasa di Pulau Penyengat tidak hanya berfokus pada aspek sejarah, tetapi juga disiapkan menjadi ikon baru wisata berbasis sejarah di Kepulauan Riau (Kepri), sebagaimana disampaikan Gubernur Ansar Ahmad, Sabtu, 28 Maret 2026.
Pembangunan Monumen Bahasa di Pulau Penyengat diproyeksikan menjadi langkah strategis dalam menggabungkan nilai sejarah dengan potensi pariwisata daerah. Pemerintah daerah melihat peluang besar untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai destinasi unggulan berbasis edukasi dan budaya.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menjelaskan bahwa monumen ini tidak hanya akan menjadi simbol sejarah, tetapi juga magnet baru bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dalam perjalanan Bahasa Indonesia.
“Monumen Bahasa ini akan menjadi bukti bahwa Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan memiliki akar sejarah dari Pulau Penyengat,” ujar Ansar.
Menurutnya, pendekatan wisata berbasis sejarah memiliki daya tarik tersendiri karena tidak hanya menawarkan pengalaman visual, tetapi juga nilai edukatif yang kuat.
Ia menilai, Pulau Penyengat memiliki modal besar sebagai destinasi wisata sejarah karena kaya akan warisan budaya Melayu yang masih terjaga hingga saat ini.
Dengan adanya Monumen Bahasa, kawasan ini diharapkan semakin dikenal secara luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Ansar menambahkan, pengembangan wisata tidak harus selalu berbasis alam atau hiburan, tetapi juga dapat dikembangkan melalui kekuatan narasi sejarah yang dimiliki suatu daerah.
Menurutnya, Monumen Bahasa akan menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk memahami lebih jauh peran Pulau Penyengat dalam perjalanan bahasa dan budaya di Indonesia.
Selain itu, keberadaan monumen ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui peningkatan kunjungan wisatawan.
Masyarakat sekitar pun berpotensi mendapatkan manfaat dari aktivitas wisata yang berkembang, mulai dari sektor jasa hingga ekonomi kreatif berbasis budaya.
Rencana pembangunan ini disampaikan dalam rangkaian kegiatan masyarakat yang berlangsung di Pulau Penyengat dalam suasana Idul Fitri. ***
















