GESER UNTUK BACA BERITA
BATAM

Ekonomi Kepri Tumbuh 6,94 Persen, Tertinggi di Sumatera

×

Ekonomi Kepri Tumbuh 6,94 Persen, Tertinggi di Sumatera

Sebarkan artikel ini
Ekonomi Kepri Tumbuh 6,94 Persen, Tertinggi di Sumatera
Wakil Gubernur Kepulauan Riau (Wagub Kepri), Nyanyang Haris Pratamura. (Foto : Fik)

BATAM – Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menunjukkan kinerja yang kuat di tengah berbagai tantangan global. Pada Triwulan IV Tahun 2025, pertumbuhan ekonomi daerah ini tercatat mencapai 6,94 persen secara year on year.

Capaian tersebut bahkan menjadikan Kepulauan Riau sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di wilayah Sumatera dan berada di peringkat ketiga secara nasional.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Kepulauan Riau (Wagub Kepri), Nyanyang Haris Pratamura, saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Batam Tahun 2027 di Ballroom Grand Mercure Hotel Batam, Kamis (5/3/2026).

Menurut Nyanyang, capaian tersebut menunjukkan bahwa perekonomian daerah masih mampu tumbuh positif meskipun menghadapi berbagai dinamika ekonomi global dalam beberapa waktu terakhir.

Ia menjelaskan bahwa dalam satu tahun terakhir Provinsi Kepri menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan, mulai dari perlambatan ekonomi dunia hingga tekanan inflasi pangan global.

Selain itu, fragmentasi perdagangan internasional serta perubahan iklim juga turut memberikan dampak bagi wilayah kepulauan seperti Kepri.

Ketegangan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, juga dinilai berpotensi mempengaruhi stabilitas energi dan rantai pasok dunia apabila berlangsung dalam waktu yang lama.

Bagi Kepulauan Riau, kondisi ekonomi global tersebut terasa langsung terutama pada sektor manufaktur yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.

Kawasan industri di Batam dan Bintan selama ini menjadi pusat aktivitas manufaktur yang berorientasi ekspor, sehingga sangat dipengaruhi oleh permintaan pasar internasional.

Volatilitas permintaan ekspor dari Amerika Serikat, Eropa, dan Tiongkok membuat dunia usaha semakin selektif dalam melakukan investasi di kawasan perdagangan bebas Batam–Bintan–Karimun.

Meski demikian, Nyanyang menilai perekonomian Kepri masih mampu menunjukkan daya tahan yang baik di tengah berbagai tekanan global tersebut.

Selain pertumbuhan ekonomi yang positif, sejumlah indikator pembangunan daerah juga menunjukkan tren peningkatan.

PDRB per kapita Kepri misalnya mengalami kenaikan signifikan dari Rp123,46 juta pada tahun 2020 menjadi Rp161,42 juta pada tahun 2024.

Di sisi lain, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kepri pada tahun 2025 tercatat mencapai 80,53. Angka tersebut menempatkan Kepri dalam kategori sangat tinggi sekaligus berada pada peringkat ketiga secara nasional.

Tidak hanya itu, tingkat kemiskinan di Kepri juga berhasil ditekan hingga mencapai 4,26 persen, menjadikannya sebagai salah satu provinsi dengan angka kemiskinan terendah di Indonesia.

Meski berbagai capaian positif berhasil diraih, Nyanyang mengingatkan bahwa pemerintah daerah tetap harus memperhatikan sejumlah isu strategis yang masih menjadi tantangan pembangunan di Kepri.

Beberapa di antaranya meliputi peningkatan kualitas pembangunan manusia, optimalisasi potensi maritim, penanganan kemiskinan dan pengangguran, hingga pembangunan infrastruktur wilayah yang lebih merata dan terintegrasi. ***

banner 200x200
Preferensi Sumber
banner 482x100