GESER UNTUK BACA BERITA
NASIONAL

Drone Buatan ITB Siap Beroperasi 24 Jam di Wilayah Perbatasan

×

Drone Buatan ITB Siap Beroperasi 24 Jam di Wilayah Perbatasan

Sebarkan artikel ini
Drone Buatan ITB Siap Beroperasi 24 Jam di Wilayah Perbatasan
Drone Buatan ITB Siap Beroperasi 24 Jam di Wilayah Perbatasan. (Foto : Imigrasi)

JAKARTA – Drone hasil pengembangan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama PT Dirgantara Indonesia (PT DI) disiapkan menjadi andalan baru dalam memperkuat pengawasan wilayah perbatasan Indonesia. Teknologi tersebut dirancang mampu beroperasi selama 24 jam nonstop sebagai bagian dari program Pagar Digital yang diinisiasi Direktorat Jenderal Imigrasi.

Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, menjelaskan, pemanfaatan drone menjadi solusi untuk mengawasi wilayah perbatasan yang luas dengan dukungan teknologi buatan dalam negeri.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Drone tersebut merupakan hasil pengembangan ITB sejak 2019 yang diproduksi bersama PT Dirgantara Indonesia. Sistemnya dirancang mampu terbang tanpa henti selama satu hari penuh dengan memanfaatkan pasokan energi dari panel surya sehingga dapat melakukan pemantauan secara berkelanjutan.

Dalam implementasinya, sistem pengawasan udara ini mengombinasikan dua jenis drone yang bekerja saling melengkapi. Drone HALE (High-Altitude Long-Endurance) bertugas melakukan pemantauan dari ketinggian sekitar 1.000 meter selama 24 jam untuk mengawasi area perbatasan dalam cakupan luas.

Apabila terdeteksi aktivitas mencurigakan, Drone Mantis akan diterjunkan untuk melakukan pendekatan taktis sekaligus memberikan visual secara lebih rinci terhadap objek yang dipantau.

Menurut Hendarsam, kehadiran drone tersebut memungkinkan petugas memperoleh informasi awal secara cepat sebelum melakukan tindakan di lapangan.

“Drone juga memperluas daya jangkau petugas kami. Mengingat luasnya wilayah pengawasan, keberadaan mata udara yang cepat dan fleksibel memberikan data awal yang akurat sebelum tim bergerak melakukan penindakan. Ini jauh lebih hemat dibandingkan harus mengoperasikan aset udara berawak,” ujar Hendarsam.

Sebelum diproyeksikan untuk mendukung pengawasan keimigrasian, teknologi drone tersebut telah lebih dulu diterapkan di sektor agrikultur dengan hasil yang dinilai memuaskan.

Melalui kolaborasi dengan ITB dan PT Dirgantara Indonesia, Direktorat Jenderal Imigrasi berharap pemanfaatan drone buatan dalam negeri mampu meningkatkan efektivitas pengawasan perbatasan sekaligus memperkuat kemandirian teknologi nasional. ***

banner 200x200
Preferensi Sumber
banner 482x100