LINGGA (SK) — Untuk menampung sejumlah masalah, menyangkut persiapan POPDA tahun 2018, Wakil Bupati Lingga, Muhammad Nizar, menggelar rapat bersama 20 pelatih cabang olahraga dan dinas terkait di Daik Lingga, Senin, (13/02/2017).
“Khusus untuk POPDA 2018 yang akan berlangsung di Kabupaten Lingga, Pemerintah daerah menargetkan juara umum. Untuk mencapai tingkat tersebut memang tidak gampang. Untuk itu, harus dipersiapkan betul-betul,” kata Muhammad Nizar.
Nizar, yang terlihat bersemangat menanggapi setiap keluhan para pelatih tersebut, mengatakan, kedepan Pemda tidak akan tinggal diam, dan akan berupaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Lingga akan memiliki nama besar di bidang olahraga, jika seluruh pihak dapat mendukung usaha Pemkab Lingga, untuk membangun kembali kegemilangan olahraga yang pernah sampai kepada titik keemasannya di era perusahaan penambangan timah dulu.
Lanjutnya, terkait DPA bidang olahraga tahun 2017, yang diakuinya tidak memadai untuk melakukan persiapan POPDA 2018 secara maksimal, dirinya minta kepada semua pihak untuk sedikit bersabar.
“Masalah yang disampaiakan para pelatih ini sudah kami dengar dari sejak kami belum menjabat. Untuk itu, saya bersama Bupati Lingga telah sepakat, untuk membangun Lingga tidak hanya dari sektor ekonomi saja, namun juga sumberdaya manusia termasuk di bidang olahraga ini. Untuk anggaran akan kami upayakan agar masuk pada APBD Perubahan, pertengahan tahun 2017 mendatang,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Lingga, Drs Idrus, sebelumnya menyampaikan, saat ini anggaran untuk mempersiapkan POPDA tahun 2018, tidak dianggarkan dalam APBD Murni 2017, sehingga hal tersebut menyulitkan pihak dinas melakukan persiapan, mulai dari sarana prasarana olahraga sampai pembinaan atlet di 10 cabang olahraga pelajar tersebut.
“Pada APBD Murni, tidak ada anggaran untuk persiapan pelaksanaan POPDA 2018. Sementara pelaksanaannya di bulan Maret 2018. Kami pesimis, jika anggaran baru dimuat dalam APBD murni 2018 mendatang,” ungkapnya.
Misalnya anggaran untuk pembinaan olahraga, sebut Idrus lagi, yang tertuang dalam DPA tahun 2017, hanya berjumlah Rp 65 juta untuk pembinaan selama satu tahun. Tentu saja angka tersebut tidak mungkin mencukupi untuk pembinaan para atlet seluruh cabang olahraga. Selain itu, terlepas dari masalah anggaran, pihaknya sudah melakukan inventarisasi sarana pendukung 10 cabang olahraga yang di pertandingkan di ajang POPDA.
Tambahnya, untuk pendataan atlet di tiap cabang olahraga, saat ini sedang dilakukan oleh Disparpora Lingga. Kebutuhan data atlet itu tidak hanya untuk persiapan POPDA semata, namun untuk even-even olahraga selanjutnya.
“Kami sudah inventarisir sarana pendukung pelaksanaan POPDA. Barangkali ada sharing dana untuk renovasi dari DPU,” paparnya.
Sejumlah pelatih juga menyampaikan beberapa permasalahan menyangkut pembinaan atlet yang mereka temui di lapangan saat ini. Beberapa diantaranya mengharapkan ada perhatian dari Pemerintah Daerah (Pemda) terhadap atlet-atlet yang berprestasi, dengan memberikan reward, serta memberikan pembinaan lebih lanjut, dan menjamin beasiswa untuk pendidikan yang lebih tinggi bagi pembawa nama baik daerah tersebut. Selain itu, para pelatih juga mengaku sudah sejak beberapa tahun terakhir mengaku tidak lagi mendapat honor, mengharapkan ada kepedulian pemerintah terhadap kesejahtaraan pelatih tersebut.
Selama ini, peran mereka mendidik dan membesarkan bakat-bakat pelajar menjadi atlet yang berprestasi, datang dari keiklasan dan kecintaannya terhadap olahraga tersebut. Para pelatih disini rata-rata hanya honorer sekolah. Honor komite sudah tidak bergulir lagi.
“Kami betul-betul kerja tampa pamrih. Kami sangat berharap ada perhatian kedepannya,” kata Ramli, pelatih tim sepak bola pelajar di Kecamatan Singkep Barat.
Para pelatih yang lainnya, juga mengharapkan, keseriusan pemerintah dalam membenahi sistem pembinaan atlet, tidak hanya sebatas momen POPDA saja. Namun hendaknya dipelihara terus menerus agar regenerasi atlet tersebut tidak terputus.
“Jangan cuma sebatas POPDA saja. Setelah itu, pemerintah lepas,” cetus Heri Candra, Ketua Badan Pembina Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (Bapopsi), Kabupaten Lingga. (SK-Pus)














