GESER UNTUK BACA BERITA
NASIONAL

Tahapan Uji Kompetensi Juru Masak MBG Dikawal Ketat

×

Tahapan Uji Kompetensi Juru Masak MBG Dikawal Ketat

Sebarkan artikel ini
Tahapan Uji Kompetensi Juru Masak MBG Dikawal Ketat
Tahapan Uji Kompetensi Juru Masak MBG Dikawal Ketat. (Foto : Ist)

JAKARTA – Tahapan Uji Kompetensi juru masak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dikawal secara ketat oleh Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) Tata Boga. Pengawalan ini dilakukan untuk memastikan setiap tenaga dapur yang terlibat benar-benar memenuhi standar kompetensi dan siap bertanggung jawab atas keamanan pangan masyarakat.

Uji kompetensi yang diikuti ratusan juru masak dari berbagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia tersebut difokuskan pada skema Juru Masak Jasa Usaha Makanan Level KKNI. Skema ini menjadi tolok ukur utama kelayakan juru masak dalam mengelola dapur MBG.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“LSK Tata Boga ingin memberikan sumbangsih nyata bagi negara. Program MBG harus ditopang oleh SDM yang benar-benar kompeten, bukan sekadar bisa memasak,” tegas penguji Uji Kompetensi LSK Tata Boga, Tri Yuni Susilowati, Minggu (25/1/2026).

Tri Yuni Susilowati menjelaskan, setiap peserta wajib melalui tahapan penilaian teori dan praktik. Pada tahap teori, peserta diuji pemahamannya tentang keamanan pangan, manajemen dapur, serta standar kebersihan dan kesehatan makanan.

Sementara pada tahap praktik, peserta diminta mendemonstrasikan kemampuan memasak, mengatur waktu produksi, mengelola bahan baku, hingga menunjukkan sikap kerja dan etika profesi di dapur.

“Penilaian bukan hanya soal rasa, tapi juga pengetahuan, sikap, dan cara kerja,” ujarnya.

Herna menegaskan bahwa sertifikasi kompetensi bukan formalitas administratif. Sertifikat menjadi bukti bahwa juru masak memiliki kemampuan yang dapat dipertanggungjawabkan, terutama karena menyangkut kesehatan dan keselamatan banyak orang.

“Dengan sertifikasi kompetensi, kualitas tenaga kerja bisa dipertanggungjawabkan. Ini penting karena menyangkut kesehatan dan keselamatan banyak orang,” jelasnya.

Menurut Herna, tanpa kompetensi yang memadai, juru masak berpotensi tidak memahami risiko makanan basi, terkontaminasi, atau berbahaya bagi konsumen.

“Kalau tidak punya pengetahuan, tidak akan tahu makanan basi, terkontaminasi, atau berbahaya. Ini bukan dapur coba-coba,” katanya.

LSK Tata Boga menilai pengawalan ketat dalam setiap tahapan uji kompetensi menjadi kunci menjaga mutu Program Makan Bergizi Gratis. Dengan filter kompetensi yang jelas, dapur MBG diharapkan diisi oleh tenaga profesional yang memahami standar kerja dan tanggung jawabnya.

Melalui mekanisme ini, LSK Tata Boga memastikan bahwa keberhasilan MBG tidak hanya bergantung pada anggaran dan distribusi, tetapi juga pada kualitas SDM yang mengolah setiap porsi makanan untuk masyarakat. ***

banner 200x200
Preferensi Sumber
banner 482x100